Thursday, September 29, 2011

LATIH AGAR ANAK KREATIF


Kompas.com — Semua orang tahu, kreativitas adalah modal untuk bertahan dan sukses dalam kehidupan. Berikut poin inspirasi untuk membentuk anak kreatif:
1. Pilih pola asuh yang pas. Tidak perlu mengontrol dan meminimalkan larangan. Dengan begitu, anak menemukan kebebasan dalam berkreasi.
2. Jangan melakukan kritikan yang mematikan. Kalau mau, berikan koreksi yang membangun. “Wuih hebat, pesawatnya bagus. Cuma, kalau mau terbangnya lebih tinggi coba bikin sayapnya agak besar.”
3. Berikan rasa aman dan percaya diri. Dengan ini anak akan menjadi seorang yang berani, tidak ragu, berani mengambil keputusan, berani mengambil risiko, dan bertanggung jawab.
4. Hargai karya anak. Seperti apa bentuknya? Cukup dengan perkataan positif, memberikan pujian yang tulus, atau sesekali boleh memberikan hadiah.
5. Berikan tantangan. Dengan cara ini, anak akan “memeras” otak untuk mendapatkan jalan keluar. Otaknya pun akan terus dirangsang untuk berpikir kreatif, menyukai tantangan, dan menguasai keterampilan tertentu.
6. Tidak memanjakan anak. Memberikan rasa kasih sayang memang perlu, tapi tidak harus memanjakannya. Selain membuat anak malas, kreativitasnya juga bisa mandek.
7. Jalin komunikasi yang baik. Ini adalah kunci kesuksesan membentuk anak kreatif. Jika komunikasi kita nyambung dan dimengerti anak, apa yang kita mau atau upayakan akan tecermin dalam usaha anak.
8. Sering-sering memberikan pilihan pada anak. Dengan ini anak akan terbiasa dan terkondisi untuk bisa menilai sesuatu, selektif, hati-hati, dan membuat pertimbangan. Beberapa tindakan berikut bisa dicoba:
- Beri anak kebebasan memilih saat kita membelikan sesuatu.
- Hindari “salah” atau “jangan” dalam setiap perkataan. Lebih baik katakan, “sebaiknya”, “kurang benar”, dan kata sejenis yang menunjukkan adanya alternatif lain.
- Hargai setiap pendapat anak.
9. Jangan menyepelekan anak. Mungkin karena menganggapnya masih terlalu kecil, anak tidak dianggap keberadaannya. Jadi, libatkan anak dalam diskusi, sharing, atau mengajaknya melakukan aktivitas bersama. Dengan cara itu akan ada banyak masukan yang anak terima, dia juga akan mempunyai banyak bahan yang bisa membuatnya kreatif.
sumber :kompas.com

Latihan Konsentrasi pada Anak

Kemampuan memusatkan perhatian akan selalu diperlukan sepanjang hidup seseorang.
Apakah batita Anda tak pernah bisa diam; lari sana, lari sini, loncat sana, loncat sini? Atau ia tampak lekas bosan, tak sampai 5 menit pegang satu mainan sudah beralih ke mainan lain? Selamat datang di dunia anak 1-2 tahun! Mereka memang masih kurang fokus atau masih sulit menaruh perhatian terhadap sesuatu untuk waktu yang lama. Ini berhubungan dengan rentang konsentrasi batita yang masih pendek, patokannya sekitar 5-15 menit (bandingkan dengan kemampuan berkonsentrasi anak usia sekolah yang mencapai 30-45 menit).

Toh, patokan itu bukan angka mati. Pada dasarnya, kemampuan konsentrasi setiap anak berbeda. Ada yang hanya mencapai 5 menit, tapi ada juga yang mampu hingga 15 menit. Faktor temperamen, salah satu yang memengaruhi hal tersebut. Anak yang pembawaannya tenang umumnya memiliki rentang konsentrasi yang cukup baik. Ia tidak mudah menyerah dan tidak gampang teralihkan perhatiannya ketika sedang melakukan sesuatu. Contoh, saat tidak bisa memakai sandal, ia akan mencoba dan mencobanya lagi. Sementara anak yang energik (senang bergerak) umumnya akan memiliki rentang perhatian yang lebih rendah serta mudah teralihkan. Ia juga tampak pembosan dan gampang menyerah. Saat tak bisa memainkan pasel, misalnya, anak akan meninggalkannya begitu saja dan beralih pada hal lain. Tak ada yang salah dengan kedua model karakter tersebut. Bukankah mereka masih berusia 1-2 tahun?

FUNGSI KERJA OTAK
Mengapa rentang perhatian batita masih pendek? Sebelum menjawab hal itu, perlu diketahui bahwa konsentrasi merupakan sesuatu yang terberikan dan berkaitan dengan fungsi kerja otak. Kemampuan memfokuskan perhatian ini dipengaruhi beberapa hal lain, seperti (1) kemampuan indra (penglihatan dan pendengaran) yang berfungsi menerima rangsang, (2) kemampuan gerak motorik (dalam mengerjakan sesuatu), serta (3) peran lingkungan (dalam memberikan rangsang atau stimulus). Semua harus berfungsi dengan baik, bila salah satu tidak berfungsi optimal, maka stimulus yang masuk tidak bisa ditangkap dan diolah otak dengan baik sehingga respons yang dihasilkan pun jadi terganggu.
Nah, tingkat konsentrasi yang belum baik pada usia batita berkaitan dengan kemampuan fungsi indra, fungsi otak, dan fungsi-fungsi lainnya pada anak 1-2 tahun yang memang belum sepenuhnya optimal (masih dalam perkembangan). Keingintahuan yang besaryang mendorongnya untuk banyak bergerak (bereksplorasi); mencoba ini, mencoba itujuga merupakan penyebab si kecil jadi sulit fokus pada suatu hal dalam rentang waktu yang lama.

MELATIH TANPA MENUNTUT
Sekali lagi, meski wajar, rentang perhatian anak perlu terus ditingkatkan dengan berbagai stimulasi. Namun ingat, jangan terlalu menuntutnya dapat melakukan suatu aktivitas dengan tekun. Yang bisa diharapkan dari anak usia batita menyelesaikan satu kegiatan hingga tuntas. Tentu saja untuk itu diperlukan kegiatan yang menyenangkan, sambil bermain, tetapi memiliki tujuan. Inilah contoh-contohnya:
* Pada batita awal yang masih minum ASI, lakukan selalu kontak mata dan ajak ia bicara saat disusui.
* Memberikan kesempatan kepada anak dalam melakukan kemandirian seperti belajar mengenakan sepatu atau sandal sendiri.
* Mengajak si batita melihat-lihat gambar pada buku dan membuka lembar demi lembarnya satu per satu. Jelaskan warna-warna apa saja yang ada pada gambar dengan menunjukkannya dan menanyakan kembali pada anak.
* Ajak si kecil bicara secara fokus dan tuntas. Topik pembicaraan yang tidak jelas cenderung diabaikan oleh anak.
* Ketika menyampaikan sesuatu, pastikan anak sedang dalam keadaan siap untuk mendengarkan apa yang dibicarakan.
* Contoh cara berbicara yang lugas, tidak berpanjang-panjang kalimat dan jelas, sehingga anak dapat menangkap dan memberi respons yang sesuai.
* Ajak anak bermain dengan mainan yang menantang sekaligus menuntut pemusatan perhatian seperti pasel 1-2 keping, pasel bentuk 3 dimensi yang hanya dapat dimasukkan ke dalam lubang yang bentuknya sesuai, memasukkan biji-bijian besar ke dalam botol, memasukkan air ke dalam botol memakai corong dibarengi upaya agar tidak tumpah, meronce manik-manik besar, menyusun balok-balok besar, dan sejenisnya.
* Mengajak si batita melakukan aktivitas makan sendiri meski masih berantakan.
Latihan dasar konsentrasi yang sebaiknya dimulai di usia bayi, bahkan kandungan, bertujuan membangun fokus perhatian anak. Konsentrasi sangat diperlukan dalam proses belajar maupun menyelesaikan suatu tugas hingga tuntas. Bukan hanya tugas sekolah tetapi juga tugas-tugas lain dalam kehidupan.

WASPADAI di ATAS 2 TAHUN
Gangguan konsentrasi bisa mulai dideteksi setelah anak berusia 2 tahun. Kondisi ini umumnya makin tampak bila si kecil menginjak usia prasekolah dan semakin jelas saat duduk di sekolah dasar. Kecurigaan umumnya berawal dari keluhan guru karena anak sering tidak betah duduk menekuni satu kegiatan, mengganggu teman-temannya, nilai-nilai akademisnya tidak memuaskan, berbagai tugasnya tidak pernah selesai dikerjakan.
Gangguan konsentrasi akan semakin kentara bila dibarengi dengan hiperaktivitas/ADHD (Attention Deficiet Hiperactivty Disorder). Cirinya, anak seolah tidak mau mendengarkan instruksi, tak mau diam/tenang (selalu bergerak ke sana kemari), tidak selesai dalam menyelesaikan suatu tugas dan mudah teralihkan pada hal lain, ketika ditanya pun ia tidak menjawab, tidak ada kontak mata, dan (biasanya) mengganggu orang lain.
ADHD berbeda dengan ADD (Attention Deficit Disorder). Anak ADD tidak hiperaktif. Lantaran itulah, gangguan ini lebih sulit dideteksi karena anak (tampaknya) memililki pembawaan tenang dan terfokus pada satu objek tanpa teralihkan. Namun sebetulnya ia tidak bisa mendengarkan esensi yang dibicarakan orang lain, tidak bisa memilah informasi mana yang harus ditangkap maupun diabaikan, dan tidak bisa beralih perhatiannya bila memang diperlukan.
Gangguan konsentrasi tanpa hiperaktivitas atau gerak tak beraturan, biasanya diketahui ketika anak duduk di sekolah dasar. Ketika anak diketahui tidak bisa menangkap secara baik pembicaraan atau penjelasan guru, tidak mengerjakan sesuai perintah, dan lain-lain.
Bila ada perilaku mencurigakan, seperti anak menolak melakukan kontak mata, (bisa dilihat saat anak sudah lewat berusia 2 tahun) maka perlu ditegakkan diagnosa dengan bantuan ahli (psikolog klinis anak, psikiater, ataupun ahli saraf). Penanganan yang akan dilakukan umumnya berupa terapi okupasi dengan meningkatkan kemampuan motorik halusnya sehingga kemampuan konsentrasinya pun akan semakin baik. Terapi lainnya adalah terapi perilaku (misalnya, latihan bicara disertai kontak mata) dan pantang makanan tertentu (seperti susu, gandum, yang dicurigai meningkatkan hiperaktivitas). Kegiatan-kegiatan yang berkaitan dengan konsentrasi seperti melipat, meronce, dan lain-lain, juga amat disarankan.
Dedeh Kurniasih. Ilustrasi&Foto Dok. nakita
Narasumber:
Rozamon Anwar, S.Psi., M.Si., Psi.,
Fakultas Psikologi Universitas Pancasila, Jakarta

Kenapa CEGUKAN?.....


Meski tampaknya sepele, jangan menganggap remeh cegukan. Pasalnya, cegukan ternyata bisa merupakan gejala aneka jenis penyakit.*
Cegukan sepertinya sepele. Namun, waspada jika cegukan berlangsung lama.
Menurut dr. Bastian Sp.S dari RS Ongkomulyo Jakarta, cegukan, yang dalam
bahasa medisnya disebut hiccups, tak hanya menyangkut organ tenggorokan,
tapi juga organ-organ lain. Termasuk di dalamnya otot-otot diagfragma,
epiglotis (katup di tenggorokan), dan susunan saraf pusat (otak) serta saraf
tepi (nervous prenicus). Apa saja yang patut Anda ketahui tentang cegukan?
KENAPA KITA CEGUKAN?
Dalam kondisi normal, saat kita menarik napas, otot-otot diafragma akan
turun, dan saat itu pula katup tenggorokan membuka, sehingga udara yang
menekan ke atas tidak akan berbunyi. Akan tetapi, pada cegukan, saat menarik
napas, terjadi kontraksi atau bahasa awamnya kram pada otot diafragma dan
otot-otot antara tulang iga. Akibatnya, keduanya akan naik. Nah, pada saat
bersamaan, epiglotis (katup/klep di tenggorokan) pun tertutup, sehingga
udara dari diagfragma yang naik ke atas akan menekan klep ini. Akibatnya,
terjadilah cegukan.
Tertutupnya katup atau epiglotis ini terjadi karena adanya gangguan di
lengkung refleks, yaitu pada susunan saraf pusat (SSP) dan saraf tepi (ST).
Kedua saraf ini mengatur jalur pernafasan dalam tubuh manusia agar berjalan
lancar. Tertutupnya klep ini bukan merupakan kelainan SSP atau ST, namun
merupakan respon dari SSP dan ST yang terganggu.
Oleh karena saraf tepi berukuran panjang dan berhubungan dengan organ-organ
di dalam tubuh, maka terkadang aktivitasnya terganggu oleh penyakit yang
serius. Sehingga, cegukan dapat pula menjadi gejala adaya radang di perut,
penyakit di ginjal, masalah hati atau tumbuhnya tumor di leher yang
mengganggu saraf, yang kemudian mengirim respon sehingga muncullah cegukan.
DUA JENIS CEGUKAN
Berdasarkan jenisnya, cegukan bisa dibagi menjadi 2 kelompok. Yang pertama
cegukan yang bersifat ringan, yang hanya berlangsung selama 1 – 2 jam saja.
“Cegukan jenis ini bisa hilang sendiri,” ujar Bastian. Penyebab paling
sering pada ketegori ini karena adanya regangan pada lambung. Selain itu,
juga karena perubahan cuaca mendadak (misalnya dari dingin ke panas atau
sebaliknya), makan makanan yang terlalu panas atau dingin, meminum minuman
beralkohol, merokok terlalu banyak, atau mengalami stres.
“Cegukan karena akan hilang sendiri saat penderita tidur. Oleh karena itu,
jika Anda cegukan dari pagi sampai malam dan ternyata hilang saat Anda
tidur, perlu dicari tahu, masalah apa yang tengah mengganggu Anda saat itu,”
tegas Bastian.
Jenis cegukan kedua bersifat tetap/permanen (persistance). Cegukan jenis ini
biasanya terjadi terus-menerus, tak hanya berhari-hari tapi bisa
berbulan-bulan. “Cegukan jenis ini merupakan gejala adanya gangguan di otak
(misalnya gejala tumor di batang otak), gejala stroke (pada penderita stroke
sering timbul cegukan), infeksi di SSP (otak), adanya herpes di dada
sehingga mengganggu ST, selain itu juga karena gangguan metabolik seperti
pada penderita diabetes, atau penderita kelainan ginjal karena urenia. Juga
karena gangguan elektrolit (kurang kalium), termasuk pengaruh obat-obatan
seperti steroid atau obat tidur.
Cegukan biasanya mendahului gejala lain dari suatu penyakit. “Orang dewasa
harus berhati-hati jika mengalami cegukan dalam jangka waktu yang lama.
Orang kebanyakan tak tahu atau tak sadar bahwa melalui cegukan, tubuh
sebetulnya memberi sinyal bahwa di organ tubuh kita ada yang tidak beres,”
lanjutnya Bastian.
TAHAN NAPAS
Semua orang bisa terkena cegukan, dari bayi sampai orang tua. Meski bukan
penyakit, tapi cegukan bisa merupakan gejala suatu penyakit atau respon dari
hal-hal yang seharusnya tidak kita lakukan.
Banyak cara untuk menangani cegukan. Sesuai jenisnya, yaitu cegukan ringan
dan cegukan menetap, maka penanganannya pun dibagi dua. Untuk cegukan
ringan, ada beberapa kiat yang bisa dipakai, antara lain:
1. Meminum air hangat
2. Tarik dan buang nafas, kemudian tampung di dalam kantong atau kertas
tertutup selama kurang lebih satu menit. Hidung dan mulut masuk ke dalam
kantong tersebut. Maksudnya adalah untuk menahan dan meningkatkan CO2, sebab
menurunnya jumlah CO2 dalam darah bisa menyebabkan cegukan. Setelah satu
menit, Anda bisa beristirahat dan kemudian mengulangnya kembali.
3. Tidur berbaring dengan kedua lutut ditekuk ke arah perut. Lakukan
beberapa saat hingga cegukan hilang.
Pengobatan lain yang sering dilakukan adalah dengan menahan nafas atau
menelan gula batu. Bisa juga minum air dingin sedikit demi sedikit dan
mengeluarkannya dari sisi gelas yang salah. Semua itu dimaksudkan untuk
mempengaruhi sistem saraf, sehingga menghentikan ritme cegukan.
Tindakan lain adalah menarik dan mengeluarkan nafas dengan mulut dan hidung
yang berada dalam kantong. Ini berdasarkan pemikiran bahwa karbondioksida
akan meningkat saat kita menarik nafas, sehingga akan menekan aktivitas
saraf di otak yang bertanggungjawab atas terjadinya cegukan.
Adapun untuk cegukan persistence atau menetap, Bastian menganjurkan untuk
meminum Chlorpromazin. “Obat ini harus dengan resep dokter.” Selain itu,
bisa juga dengan Tegretol (sebenarnya untuk obat kejang tapi juga bisa
digunakan). Namun, meski ampuh, kedua obat ini ternyata juga memiliki efek
samping, yaitu menyebabkan kantuk.
“Penggunaan obat memang cukup manjur, tapi sifatnya hanya menekan gejala
cegukan. Sementara jika seseorang cegukan karena menderita penyakit,
misalnya tumor otak, obat tidak akan berpengaruh,” ungkap Bastian. Namun,
bukan berarti setiap orang yang menderita tumor otak akan mengalami cegukan.
“Tergantung letaknya. Yang paling riskan adalah jika terletak di Medula
Oblongata (batang otak).”
Namun, obat-obatan tak selalu membantu.”Kalau cegukan tak juga hilang sampai
bertahun-tahun, perlu dilakukan tindakan bedah, di mana saraf yang menuju
diagfragma dipotong. Bedah ini juga tidak sampai mengganggu pernafasan.”
JIKA SI KECIL CEGUKAN
Bayi juga bisa cegukan. Dan ternyata, menurut Bastian, “Bayi paling sering
mengalami cegukan, apalagi saat menyusu.” Untuk mengatasinya, Anda bisa
membaringkan bayi dan dan menekuk kedua kakinya hingga ke arah perut.
Memberi si kecil air hangat juga bisa membantu. “Akan lebih mudah jika
menggunakan dot, karena dot akan merangsang faring atau tenggorokan supaya
membuka,” ujar Bastian.
Cegukan pada bayi tak perlu dicemaskan, kecuali terjadi selama lebih dari
sejam. Dalam beberapa kasus, orangtua dapat memberikan sesendok air hangat
atau meminumkan air hangat. “Bayi memang bisa mengalami cegukan yang
menetap, tapi kemungkinannya sangat kecil,” ujarnya.
Selain saat menyusui, pola makan yang salah dari bayi dapat pula menjadi
pemicu terjadinya cegukan. “Biasanya terjadi pada ibu muda yang belum paham
pola makan yang benar.” Oleh karena itu, ada beberapa saran yang bisa Anda
ikuti:
1. Jika ingin memberi makan bayi, sebaiknya sedikit demi sedikit, dan bukan volumenya yang diperbanyak.
2. Lebih baik mempersering frekuensi makan atau minum daripada memaksakan makan/minum sekali tapi dalam jumlah besar.
3. Jika bayi cegukan lebih dari sejam, segeralah bawa ke dokter untuk dilakukan pemeriksaan.
4. Usahakan agar saat menyuapi bayi, udara tidak ikut masuk ke faring (tenggorokan). Oleh karena itu, jangan terburu-buru dan terlalu cepat.
http://www.tabloidnova.com/articles.asp?id=980

BAKAT ANAKKU APA?.....


Bakat adalah potensi yang ada dalam diri seseorang. Menurut Fabiola Prisciliia H, M Psi, potensi tersebut perlu dirangsang terlebih dahulu sehingga dapat terlihat sebagai suatu kecakapan, pengetahuan atau keterampilan khusus yang membuat seseorang terlihat lebih dibandingkan orang lain. Misalnya, anak yang memiliki bakat melukis harus diberikan rangsangan atau stimulasi mengembangkan kemampuan seni lukisnya lewat sanggar lukis. Disana anak dapat belajar memahami konsep warna, kepekaan akan keserasian warna, kualitas garis dan perasaan akan keindahan.
Ada dua faktor yang mempengaruhi bakat, yaitu dari diri sendiri dan factor dari orang lain. Kendati sudah memiliki potensi bakat, anak tetap perlu motivasi agar bakat bisa berkembang dengan optimal. Motivasi pertama tentu saja datang dari orangtua karena merupakan salah satu faktor pembentuk bakat dalam diri sendiri. Adanya motivasi dipercaya dapat membangkitkan rasa percaya diri anak. Motivasi dan rasa percaya diri anak dapat ditingkatkan dengan memperluas wawasan dan pergaulan. Sedangkan, lingkungan dapat memberikan dukungan dengan menyediakan fasilitas atau stimulasi.
Anak berbakat mempunyai metode pengajaran tertentu. Dan orangtua mempunyai peranan penting dalam mengembangkan bakat anak. Anak golongan ini lebih suka bereksplorasi. Maka berikan anak kesempatan seluasnya untuk mengembangkan ide-ide mereka sehingga anak terangsang meningkatkan kreativitas dan daya imajinasinya. Kesempatan yang diberikan bisa berupa mengikutsertakan anak untuk mendalami bakatnya, misalnya les musik, melukis, sanggar sastra, menari, kemampuan berkomunikasi atau olahraga.
Mulai kegiatan sederhana
Terkadang belajar di dalam ruangan membuat anak jenuh. Orangtua bias membawa anak berbakat bersama teman-temannya ke suatu tempat yang menyenangkan dan bermanfaat. Misalnya ke kebun binatang, mereka dapat melihat hewan secara langsung dan belajar mengklasi. kasikannya. Jika mungkin ajak anak bertanya pada petugas kebun binatang tentang kebiasaan makan dan sifat-sifat hewan. Setelahnya tanyakan pendapat anak mengenai perjalanannya. Mulailah dari kegiatan yang sederhana dahulu sebelum melakukan hal yang lebih rumit. Merupakan tantangan tersendiri bagi orangtua saat mendampingi anak berbakat untuk dapat mengoptimalkan kemampuannya. Menurut Fabiola, ada hal-hal yang perlu diperhatikan orangtua saat berinteraksi dengan anak. Apabila anak tidak menunjukkan minat, jangan dipaksakan. Lebih baik beri kesempatan untuk mencoba kegiatan lain. Untuk itu, orangtua harus jeli memperhatikan kemampuan anak sesuai tingkat usianya. Meski tergolong anak berbakat tetap amati tahapan perkembangannya. Misalnya, jangan memaksa anak usia dua tahun menggambar desain yang kompleks. Sementara kemampuan menggambarnya baru pada tahap scrabble atau corat-coret.
Perhatikan jadwal kegiatan sesuai dengan kebutuhan . sik anak. Misalnya, satu minggu dua kali. Jangan pula memaksa anak mengikuti banyak les. Jika anak tidak keberatan Anda dapat meneruskannya. Namun, jika anak mulai jenuh, coba berikan dia waktu istirahat atau alihkan ke kegiatan yang diminatinya. Tahap coba-coba tidak merugikan asal sesuai dengan kemauan dan kemampuan anak. Perlu diingat, sebelum mengikutsertakan anak ke sanggar terlebih dahulu tanyakan minat anak. Ini penting agar anak dapat konsisten dengan apa yang dipilihnya sehingga bakatnya bisa berkembang secara optimal. Setiap anak dibekali bakat yang berbeda-beda ada anak yang mudah sekali mengungkapkan isi hatinya dan ada anak yang tertutup. Peran orangtua dan keluarga sangat diperlukan. Sebisa mungkin dampingi anak dalam mengasah bakatnya. Mendampingi anak juga bagian dari motivasi yang berperan penting dalam perkembangan anak. Bakat anak tidak hanya perlu distimulasi tapi juga dikembangkan. Misalnya, dengan melibatkan anak dalam berbagai kegiatan yang menarik perhatiannya sehingga anak semangat untuk mencoba. Ketertarikan anak dalam kegiatan tertentu sebaiknya didukung penuh oleh sarana dan prasarana yang memadai, misalnya jika anak terlihat senang menggambar atau melukis, sediakan krayon atau cat air. Setelah anak terlihat menikmati kegiatan tersebut, berilah dukungan untuk mengembangkan kemampuannya. Misal, dalam melukis, ajak anak menceritakan hasil gambarnya. Kembangkan imajinasi anak.Jangan lupa memberikan penghargaan berupa pujian, pelukan atau makanan kecil favoritnya apabila anak berhasil selesai mengerjakan aktivitas tersebut.
Belajar teraturKendati anak mempunyai bakat, anak juga perlu proses pembelajaran yang teratur. Terkadang anak menyukai kegiatan secara musiman. Misalnya, di sekolahnya sedang marak aktivitas menggambar, dia jadi tertarik menggambar. Lalu minggu depan sekolah menghadirkan aktivitas menari, anak beralih suka menari. Jika Anda perhatikan tanggapan anak positif dan konsisten setiap minggunya. Itu artinya anak tertarik pada kegiatan tersebut. Namun, tidak selamanya konsisten diukur dari waktu. “Minat anak dapat dilihat dari ekspresi atau pertanyaan anak selama kegiatan itu berlangsung”, ujar Fabiola. Umumnya, lanjut Fabiola anak akan terlihat sebagai ‘pengganggu’ yang dapat diamati dari tingkah lakunya. Biasanya terjadi ketika anak merasa ruang geraknya terbatas. Maka anak akan mencari aklivitas lain untuk menyalurkan keinginannya. Misal, ketika anak tidak mendapatkan jawaban yang memenuhi rasa ingin tahunya dari pengajar, lalu mulailah ia melakukan observasi sendiri. “Jika dilihat gamblang memang terkesan cari-cari perhatian, namun coba telusuri lagi apa penyebab sikapnya tersebut”, jelasnya.
Anak berbakat memiliki ide-ide yang unik dan cemerlang. Sayangnya tidak semua orang dapat menerima ide tersebut. Dengan ide-ide kreatifnya, julukan aneh sering mampir di telinganya. Sehingga anak mulai mengucilkan dirinya sendiri. “Lebih parah lagi lagi anak akan membatasi kreativitas berpikirnya sendiri karena takut dibilang aneh”, kata Fabiola. Kalau dihadapkan pada masalah ini, orangtua harus dapat mengenali anak terlebih dulu. Perlu dipahami, salah satu ciri anak berbakat, yaitu memiliki ide yang jarang dimiliki anak lain. Untuk itu biasakan menghargai ide-ide anak, lalu ikut mencoba merealisasikan idenya. Anak akan lebih percaya diri. Saat anak diremehkan dengan idenya, dia dapat berkata ‘Kalau gak percaya, kita bisa mencobanya bersama-sama’. “Mereka selalu mempunyai ide-ide cemerlang yang dapat dipertanggung jawabkan kesahihannya”, papar Fabi.
Menurut Smutny dalam artikelnya How Can The Talents Of Young Gifted Children Be Assessed. Ada beberapa karakteristik anak berbakat yang dapat Anda amati saat anak berusia 4-6 tahun, antara lain: Anak berbakat selalu saja ingin tahu dalam segala hal. Sehingga terkadang mereka sering mengajukan pertanyaan yang sulit dijawab. Misalnya ‘kenapa langit berwarna biru?’ atau ‘mengapa manusia harus makan?’. Dalam menyampaikan pesan mereka mempunyai susunan kata yang lebih kompleks dibanding anak seusianya. Dengan kekayaan perbendaharaan kata, anak spesial ini dapat lebih mudah mengekspresikan perasaan dan pikirannya. Jangan terkejut jika anak berbakat Anda sudah bias mengatasi masalahnya sendiri dengan caranya yang unik. Lebih waspada dengan apa yang terjadi di lingkungannya. Karena mereka memiliki daya ingat yang tinggi. Mereka pun lebih cepat menghapal rute jalan dibandingkan Anda. Anak kerap memperlihatkan kemampuan yang tidak biasa dalam bakatnya (seni lukis, musik atau drama) terutama ide-ide mereka yang orisinil berdasarkan imajinasinya. Anak sering terlihat mengerjakan sesuatu sendiri tanpa meminta bantuan siapa pun. Kesendirian ini bukan berarti anak pasif melainkan anak merasa lebih bebas berinisiatif. Sering-seringlah buka telinga untuk mendengar opininya. Salah satu ciri anak berbakat ketika Anda memberikan tugas sulit, anak lebih tertantang. Semakin sulit puzzle yang dikerjakan semakin tertarik anak menyelesaikannya. Beberapa dari anak berbakat senang membuat cerita khayalan mereka dan mendongengkannya. Dukung kegemarannya bercerita. Ini bisa jadi awal pengenalan anak dengan buku. Meski tidak semua anak berbakat menunjukkan karakter yang disebutkan, tapi sebagai acuan dasar mengetahui apakah anak masuk golongan anak berbakat. Orangtua harus fokus pada kebiasaan sehari-harinya. Misalnya, dalam percakapan, aktivitas dan respon anak saat belajar atau melakukan suatu kegiatan.
Tes Mengidentifikasi Bakat AnakAda beberapa prosedur dan instrumen tes yang dapat dipakai untuk mengidentifikasi anak berbakat. Seringkali alat ukur yang dipakai tergantung alasan atau tujuannya. Misal, untuk menilai kemampuan sosial anak maka tes ukur diberikan ketika anak berada di dalam sebuah kelompok. Tes yang termasuk didalamnya, yaitu Iowa Test of Basic Skills (ITBS), Terra Nova, dan California Achievement Test (CAT). Achievement tests kerap diberikan untuk mengetahui level kemampuan anak. Sedangkan, tes inteligensi untuk mengukur kemampuan berpikir anak dan minatnya (bakat). Tes mengenali bakat ini antara lain, Wechsler Intelligence Scale for Children (WISC) atau Wechsler Preschool and Primary Scales of Intelligence (WPPSI) dan Stanford-Binet Intelligence Scale. Tes tersebut hanya bisa dilakukan oleh orang yang ahli dibidangnya, seperti psikolog. Atau Anda bisa mengidentifikasinya sendiri secara alamiah. Sebaiknya juga diimbangi dengan pemberian fasilitas. “Agar lebih maksimal tes dilakukan ketika anak memasuki usia remaja. Menurut saya lebih baik didasari dengan observasi dan fasilitas secara optimal. Percaya dengan hasil tes saja tidak cukup,” saran Fabiola.
Karena anak berbakat tergolong cakap, jangan lupa memodi. kasi ‘menu kegiatannya’. Berikut kegiatan sederhana yang dapat Anda jadikan acuan:
1. Anak berbakat sangat gemar membaca
Mereka memiliki ragam bacaan yang luas. Untuk mendukung minat baca anak, orangtua dapat memberikan fasilitas yang memadai, seperti membelikan buku-buku yang tengah ‘digandrungi’ anak. Misalnya, saat anak sedang menyukai buku-buku tentang binatang, Anda dapat membeli beberapa buku tentang binatang reptil, unggas dan burung, ikan, mamalia, dan sebagainya. Sesekali bawa anak menjelajahi perpustakaan atau toko buku. Luangkan waktu untuk berdiskusi dengan anak mengenai buku yang sedang dibaca. Anak berbakat sangat membutuhkan diskusi sebagai sarana untuk mengungkapkan pikiran, ide, gagasan dan perasaan mereka. Tanpa disadari kegiatan diskusi membantu merangsang minat dan pikiran anak. Agar tambah menarik buat seminar kecil bersama beberapa anak berbakat lainnya, misalnya mendiskusikan bacaan. Tapi ingat, pilihlah bacaan yang ringan sesuai dengan minat mereka. Jika anak sulit mengartikan suatu kata, dorong anak menggunakan kamus untuk mencari arti kata atau sinonimnya.
2. Kegiatan menulis
Menulis dapat menjadi media ekspresi anak, begitu juga anak berbakat. Untuk itu orangtua bisa menggabungkan kegiatan diskusi dengan kegiatan menulis. Usai membaca buku, minta anak menuliskan beberapa paragraph tentang yang mereka dapatkan dari buku, atau ungkapan perasaan. Mengenalkannya pada puisi, mulai dengan membacakan buku kumpulan puisi. Sehingga anak akan terpicu untuk mengungkapkan ekspresinya melalui puisi. Menemaninya bermain kata-kata. Misalnya, bermain scrabble, mengisi teka-teki silang, menyusun kalimat dari kata-kata yang tersedia, atau bermain membuat kata dari huruf-huruf tertentu.
3. Kegiatan matematika
Menemani bermain yang menggunakan problem solving, seperti puzzle. Bermain mencongak dapat menjadi kegiatan menyenangkan. Belajar untuk membuat klasi. Kasi benda, bunga, hewan, angka, dan sebagainya.

4. Proyek ilmiah

Anak berbakat perlu mendapat kesempatan dan dukungan untuk mengerjakan proyek ilmiah agar anak lebih memahami dan menguasai materi. Dengan mengerjakan proyek ilmiah anak mempelajari langkah-langkah dalam melakukan penelitian. Misalnya, mereka sedang membaca buku tentang mamalia, minta anak menggambar jenis-jenis hewan mamalia dalam buku penelitiannya. Lalu tentukan klasi. kasi mamalia yang hidup darat (kambing,sapi,kerbau,dll). Ajak anak mengumpulkan gambar- gambar hewan mamalia. Anak dapat memilih topik yang diinginkan.
source:Mita Zoelandari

ANAKKU INDIGO?...


Karena kemampuan indera keenamnya, tak jarang anak indigo salah diidentifikasi sebagai anak LD (Learning Disability) atau anak ADD/HD (Attention Deficit Disorder/Hyperactivity Disorder)
Indigo adalah warna nila, biru gelap. Anak indigo adalah anak yang memiliki lapangan aura berwarna nila. Cara berpikirnya yang khas, pembawaannya yang tua, membuat anak Indigo tampil beda dengan anak sebayanya. Katanya pancaran aura yang dimilikinya membawa kepada suatu karakteristik perilaku yang unik, hanya dimiliki anak Indigo. Secara fisik anak indigo sama sekali tidak berbeda dengan anak lainnya.
Lewat bukunya Understanding Your Life Through Color, Nancy Tappe (1982) membuat klasifikasi manusia berdasarkan warna energi atau cakra. Cakra adalah pintu-pintu khusus dalam tubuh manusia untuk keluar masuknya energi. Konon pada tubuh manusia ada 7 cakra, yaitu cakra mahkota ada dipuncak kepala, cakra Ajna di antara dua alis, cakra tenggorokan di tenggorokan, cakra jantung di tengah dada, cakra pusar ada di pusar, cakra seks ada pada tulang pelvis dan cakra dasar ada di tulang ekor.
Anak Indigo memiliki keunggulan pada cakra Ajna (the third eyes) yang terletak di dahi antara kedua alis mata, berkaitan dengan kelenjar hormon hipofisis dan epifisis di otak. Buku Tappe diatas boleh disebutkan sebagai buku pertama yang mendeskripsikan tentang anak indigo. Adanya the third eyes inilah anak indigo disebut memiliki indra keenam. Mereka dianggap memiliki kemampuan untuk menggambarkan masa lalu dan masa yang akan datang.
Beberapa di bawah ini adalah contoh pengalaman beberapa klien saya yang anaknya Indigo yaitu :
Pembawaannya ’tua’. Suka memberi nasehat kepada orangtuanya. Nuniek menyampaikan perasaannya pada saya bahwa ia beruntung sekali memiliki Bunga (4 tahun). Bicara dengan Bunga, Nuniek selalu merasa tidak seperti bicara dengan anak kecil. Bagi Nuniek, Bunga adalah tempatnya berkeluh kesah. Bunga hampir selalu memberi wejangan, tanpa diminta. Ia merasa Bunga terlalu tua untuk bertutur seperti itu, menurutnya materi bicara Bunga bagai seorang ibu kepada anaknya. Nuniek merasa Bunga adalah pengganti ibunya yang sudah tiada, meninggal saat Nuniek berusia remaja. Dari mulut kecil Bunga (4tahun) anak semata wayangnya, kerap terdengar pesan-pesan seperti ” Hati-hati di jalan ya ma.. gak usah ngebut nyetirnya, yang penting selamat!”, ”Mama harus sabar, gak boleh sakit hati sama papa ya….”, ” Mama gembira dong, jangan sedih terus nanti mama sakit lho..”.”Makannya yang banyak Ma, biar cepat sembuh!” ”Mama katanya mau langsing, kok makannya banyak gitu” Mereka bicara sepertinya sambil lewat saja, sambil memijat kaki ibunya, atau sambil beresin mainannya, bahkan sambil tiduran ngempeng botol susunya.
Terkesan ’wise’. Mampu bersikap bijaksana dan penuh pengertian. Firalda berceritera pada saya betapa ia merasa bersalah sering meninggalkan si kecil yang dipanggil ”Princess” di rumah karena kesibukannya di kantor. Tetapi yang terjadi ”Princess” yang baru berusia 5 tahun itu malah menghiburnya ” Mami tadi malam pulang jam berapa? Aku nungguin sampe jam 10 malam mami belum pulang juga. Mami banyak kerjaan di kantor ya?! Kenapa kok tadi gak telpon ke rumah? Aku gak apa-apa ditinggal sama mbak di rumah…aku kan ngerti mami harus kerja cari uang sendiri.. untuk beli susu, bayar uang sekolah, bayar listrik, bayar ini bayar itu..banyaaak banget..yang harus dibayar mami” Tapi jangan lupa telpon ke rumah dooong..Aku kangen mami, aku sayang mami.”
Mampu ’melihat’. Riska suka terkaget-kaget kala Tiara berkata, ”Ayah sekarang di kantor lagi bicara sama tante siapa tuh..aku gak tahu namanya. Dia pakai baju (dideskripsikan dengan rinci) dan ayah pake jaket coklat. Mereka lagi bicara-bicara berdua” Atau tiba-tiba ” Ibu, sebentar lagi ayah datang..ayah bawa brownies kesukaan kita.” Riska mengecek kepada suaminya apa betul akan ke Jakarta, karena suaminya bekerja di Bandung dan sama sekali tidak mengatakan akan ke Jakarta pada hari itu. Ternyata benar, ada tugas mendadak dan sempat mampir ke rumah. Dan bisa juga sambil lewat mengatakan, ”Nanti mau hujan besar lho Bun…”
Memiliki ’pendamping’. Teman yang tidak terlihat entah dalam sosok sebaya dia, atau sosok orangtua. Riska sudah mahfum dan membiarkan saja Tiara bicara sendiri, berdialog dengan temannya. Namun Riska memilih tidak melihatnya atau pura-pura tidak tahu, karena ia merasa takut, si kecil Tiara bicara di ruangan yang nyata-nyata tidak ada orangnya.
Di samping ciri-ciri tersebut diatas, berikut ini ciri-ciri yang lazim dijumpai pada anak indigo :
* Memiliki pola perilaku yang secara umum tidak dipelajari sebelumnya. Dengan alasan sayang membuang-buang makanan Aldo (11 tahun) saat di Pizza Hut memakan sisa makanan dan minuman dari meja sebelahnya. Perilaku Aldo membuat terhenyak orangtuanya, untunglah cuma saat itu saja terjadi dan hilang begitu saja perilaku yang dianggap aneh tersebut.
* Memiliki keyakinan diri besar. Dengan tidak memiliki dasar mengetik 10 jari Bakti (17 tahun) nekad mengikuti lomba mengetik cepat di kampusnya. Ia memperoleh penghargaan sebagai pengetik tercepat namun banyak salahnya.
* Memiliki aktivitas yang jarang diijinkan oleh lingkungannya, baik orangtua dan lingkungannya. Bayu (15 tahun) naik ke bubungan genteng sekolahnya untuk melihat pemandangan sekitar sekolahnya dari atas. Ia juga seringkali mengajak adiknya ke atap genteng rumahnya pada sore hari hanya untuk melihat terbenamnya matahari.
* Memiliki rentang atensi yang pendek. Bakti cepat merasa bosan dengan aktivitas yang sama. Ia selalu mencoba berbagai kegiatan yang ada di kampusnya.
* Memiliki temperamen aktif dan kreatif. Bakti membuat aktivitas untuk mengatasi rasa jenuhnya. Dengan melibatkan teman-temannya yang mempunyai minat sama dalam satu wadah, dia melakukan berbagai macam kegiatan yang menurutnya menarik untuk dicoba.
* Memiliki harga diri kuat. Bayu secara diam-diam mempersiapkan dirinya agar menjadi orang yang dikenal banyak orang dengan cara menjadi kontributor tetap di majalah sekolahnya, karena ia merasa di-underestimate kan orangtuanya sebagai anak yang tidak mau bergaul.
* Memiliki kesulitan menerima otoritas. Aldo membiarkan rambutnya acak-acakan karena ia tidak suka diperintah harus menyisir rambut.
* Tidak ingin melakukan hal-hal sepele. Bakti paling tidak suka mengantri, sehingga ia mencari tempat yang tidak mengharuskannya mengantri.
* Merasa frustrasi berhadapan dengan rutinitas dan ritual. Aldo pernah mengajak ibunya bermain catur dengan aturan yang dibuatnya sendiri. Dia mempertanyakan kenapa harus mengikuti aturan tertentu, apakah tidak boleh buat aturan permianan sendiri?
* Memiliki cara sendiri yang berbeda dalam melakukan sesuatu. Jadi seringkali bentrok dengan lingkungan karena dianggap tidak patuh pada aturan yang berlaku.
* Mengalami kesulitan secara sosial. Karena cenderung menjadi dirinya dengan mengabaikan kebiasaan-kebiasaan di lingkungan sekitarnya.
* Bersikap terbuka dalam menyampaikan keinginan-keinginan dirinya tanpa perlu merasa malu.
Satu hal yang penting dan digaris bawahi, yaitu tidak jarang anak indigo salah diidentifikasi. Mereka sering dianggap sebagai anak LD (Learning Disability) ataupun anak ADD/HD (Attention Deficit Disorder/Hyperactivity Disorder).
Perbedaan yang tampak sebenarnya anak indigo dengan anak yang LD atau anak ADD/HD adalah ketidakajegan munculnya perilaku yang dikeluhkan. Misalnya saja pada anak Indigo, mereka menunjukkan keunggulan pemahaman terhadap aturan-aturan sosial dan penalaran abstrak tetapi hal ini tidak tampak dalam kesehariannya, baik di sekolah maupun di rumah.
Ada 4 macam anak indigo (Nancy Tappe, dalam Carrol dan Tober, 1999) :
* Humanis. Anak indigo tipe ini akan bekerja dengan orang banyak. Kecenderungan karir mereka di masa datang akan menjadi dokter, pengacara, guru, pengusaha, politikus atau pramuniaga. Perilaku yang menonjol saat ini adalah hiperaktif, sehingga perhatiannya mudah tersebar. Mereka sangat sosial, ramah, dan memiliki pendapat yang kokoh.
* Konseptual. Anak indigo tipe ini lebih enjoy bekerja sendiri dengan proyek-proyek yang ia ciptakan sendiri. Contoh karir mereka di masa depan adalah sebagai arstiek, perancang, pilot, astronot, prajurit militer. Perilaku yang menonjol adalah suka mengontrol perilaku orang lain.
* Artis. Anak indigo tipe ini menyukai pekerjaan di bidang seni. Perilaku yang menonjol adalah sensitif, dan kreatif. Mereka mampu menunjukkan minat sekaligus dalam 5 atau 6 bidang seni, namun beranjak remaja minat mereka terfokus hanya pada satu bidang saja yang dikuasai secara baik.
* Interdimensional. Anak indigo tipe ini di masa yang akan datang akan menjadi seorang filsuf, pemuka agama. Dalam usia 1 atau 2 tahun, orangtua merasa tidak perlu mengajarkan apapun kepada mereka karena mereka sudah mengetahuinya.
Apa yang harus dilakukan orangtua?
Orangtua anak indigo mau tidak mau sering bentrok dengan anak. Hal ini karena keterbatasan kemampuan dan pemahaman mereka tentang anaknya. Ketidak mengertian orangtua membuat toleransi orangtua menjadi rendah dan ini malah memperburuk hubungan anak dengan orangtua.
Tips mengasuh anak berciri indigo :
1. Hargai keunikan anak
2. Hindari kritikan negatif
3. Jangan pernah mengecilkan anak
4. Berikan rasa aman, nyaman dan dukungan
5. Bantu anak untuk berdisiplin
6. Berikan mereka kebebasan pilihan tentang apapun
7. Bebaskan anak memilih bidang kegiatan yang menjadi minatnya, karena pada umumnya mereka tidak ingin jadi pengekor.
8. Menjelaskan sejelas-jelasnya (masuk akal) mengapa suatu instruksi diberikan, karena mereka tidak suka patuh pada hal-hal yang dianggapnya mengada-ada.
9. Jadikan sebagai mitra dalam membesarkan mereka.
Apa yang harus dilakukan guru?
1. Jadilah pendengar yang baik
2. Gunakan pernyataan positif
3. Sediakan waktu untuk berdiskusi dengan anak
4. Saling berbagi perasaan guru dan anak
5. Ciptakan suasa kekeluargaan dalam kelas dengan aturan kelas yang dibuat bersama
6. Menetapkan konsekuensi berdasarkan penyebab masalah
Virtue (dalam Carrol dan Tober, 1999) menyatakan bahwa anak indigo memiliki kecerdasan yang tinggi, namun dengan kreativitas yang terhambat. Berikut ciri-ciri anak berbakat yang Indigo :
* Memiliki sensitivitas tinggi
* Memiliki energi berlebihan untuk mewujudkan rasa ingin tahunya yang berlebih-lebihan
* Mudah sekali bosan
* Menentang otoritas bila tidak berorientasi demokratis
* Memiliki gaya belajar tertentu
* Mudah frustrasi karena banyak ide namun kurang sumber yang dapat membimbingnya
* Suka bereksplorasi
* Tidak dapat duduk diam kecuali pada objek yang menjadi minatnya
* Sangat mudah merasa jatuh kasihan pada orang lain
* Mudah menyerah dan terhambat belajar jika di awal kehidupannya mengalami kegagalan.
Oleh DR. Reni Akbar-Hawadi, Psi (Kepala Pusat Keberbakatan Fakultas Psikologi UI)
pengarah gaya&foto gusrizal
Sumber: Majalah Inspire Kids

Wednesday, September 28, 2011

TIDAK MAU DIAJAK KE PASAR

Pemandangan dan bau tak sedap mestinya bisa diakali.
Mengajak si kecil ke pasar ternyata sarat dengan pembelajaran. Ratusan macam benda dapat dilihatnya di satu lokasi. Dia terdorong banyak bertanya dan ingin meraba semuanya. Namun, mungkin ada satu hal yang tidak disukainya di pasar jika si kecil biasa dididik resik di rumah; itu lo pemandangan jorok dan bau yang tak sedap. Terkadang, alasan ini pula yang membuat kita malas mengajaknya ke sana. Padahal ada bagusnya juga, lo, mengakrabkan anak dengan situasi yang tidak terlalu nyaman tapi sarat pengetahuan. Ya pasar itu contohnya, supaya anak mampu beradaptasi dengan berbagai situasi.
Tentu agar dapat memetik manfaat bagi anak, orangtua pun harus bisa melihat hal-hal positif dari setiap situasi, termasuk situasi tak nyaman di pasar. Nah, bagaimana trik agar si batita menikmati acara jalan-jalannya ke sana?

1. Berikan penjelasan sebelum hari H.
Sejak seminggu sebelum hari H, berceritalah tentang serunya suasana pasar, bagaimana “petualangan” dilakukan, dan apa saja hal-hal menarik yang dapat dilihat si kecil di pasar. “Di pasar dijual ikan lele yang masih hidup, lo. Kita bisa menangkap sendiri ikan-ikan berenang-renang di dalam bak-bak penampungan. Belut juga ada. Itu binatang yang mirip ular tapi jinak dan tidak menggigit.”

2. Ciptakan serangkaian teka-teki atau permainan.
Untuk menumbuhkan rasa ingin tahu si batita, ciptakan serangkaian permainan sebelum pergi ke lokasi. Dapat berupa permainan peran atau sekadar teka-teki. Umpama, bermain peran sebagai pedagang dan pembeli. Atau, tebak-tebakan yang menimbulkan rasa penasaran si batita, seperti, “Ayo Dek, tebak, kulit ikan licin atau enggak? Nanti Adek lihat di pedagang ikan di pasar ya.” Tak ada salahnya pula si batita diajak bermain basah-basahan di taman terlebih dahulu agar tidak merasa jijik saat merasakan langsung beceknya pasar.

3. Persiapan sebelum berangkat ke lokasi.
Sebelum berangkat ke lokasi, lakukan persiapan sesuai dengan kebutuhan. Bila si batita diperkirakan tidak tahan panas, bawakan topi pelindung. Atau, bila si batita tidak tahan dengan bau amis, siapkan saputangan untuk menutup hidung. Selain itu, bila mengetahui bahwa si batita memang sama sekali tidak tahan dengan bau amis, sebaiknya hindari tempat-tempat yang menimbulkan aroma itu, seperti tempat ikan basah atau ikan asin.

4. Dampingi dan berikan penjelasan dengan bahasa sederhana.
Saat “berpetualang” di pasar, dampingi anak dan berikan penjelasan tentang situasi dan beragam pedagang yang ada, sehingga si batita mendapatkan tambahan pengetahuan. Contoh, “Ini sayuran berwarna hijau, ada bayam, kangkung, dan sawi.” Atau, “Yang ini buah-buahan berwarna kuning, ada pepaya, nanas, jeruk.” Khusus untuk batita, cukup memberikan penjelasan yang sederhana, seperti pengklasifikasian warna, bentuk, tekstur, dan lain-lain.

5. Berikan penghargaan.
Berikan penghargaan bila si batita berhasil menjawab pertanyaan saat melakukan klasifikasi. Hal itu akan memacu semangat dan meningkatkan rasa percaya dirinya. Umpama, dengan membelikan ikan kecil-kecil, makanan tradisional, atau mainan tradisional yang ada di pasar. Sekaligus untuk mengenalkan beragam mainan dan makanan yang ada di pasar.

KECERDASAN YANG DIKEMBANGKAN
Mengunjungi pasar bersama si batita pastinya dapat mengembangkan banyak kecerdasan, antara lain:
1 Kecerdasan kinestetik-jasmani
Mengajak si batita ikut menangkap ikan yang masih hidup di kios ikan sudah dapat mengembangkan kecerdasan kinestetiknya. Gerakan tangannya berusaha mengikuti gesitnya ikan berenang.
2. Kecerdasan interpersonal
Proses tawar-menawar antara pedagang dan pembeli di pasar dapat mengembangkan kecerdasan interpersonal si batita. Si batita dapat mengamati, bagaimana berinteraksi dengan orang lain.
3. Kecerdasan visual-spasial
Saat si batita mengamati aneka bentuk dan warna dari buah dan sayuran, sesungguhnya ia tengah mengembangkan kecerdasan visual-spasialnya.

TIP-TIP PENTING
1. Pertimbangkan waktu berbelanja.
Karena kegiatan ini untuk memberikan pengalaman baru kepada si batita, di pasar sebaiknya Anda tidak terlalu “heboh” berbelanja. Bisa-bisa karena si ibu mengejar target berbelanja untuk kebutuhan di rumah, si batita jadi terabaikan dan merasa tak nyaman.
2. Jangan paksa jika si batita menolak.
Saat si batita menolak ke pasar, tundalah keinginan Anda, atau alihkan perhatiannya pada hal-hal yang menyenangkan lainnya. Pemaksaaan dapat menyebabkan trauma, jera atau tak berani untuk mencoba lagi. Selanjutnya dapat dicoba lagi secara perlahan.
3. Ciptakan suasana menyenangkan.
Suasana pasar memang ramai dan terkadang becek serta bau. Untuk itu, ciptakan suasana yang menyenangkan. Umpama, membuat konsep seperti sedang berpetualang untuk mengalihkan perhatian si batita dari hal-hal yang tidak mengenakkan dan fokus pada hal-hal yang mengasyikkan.
Uut
Konsultan Ahli:
Indri Savitri, Psi.,
dari Lembaga Psikologi Terapan (LPT) UI