Tuesday, September 20, 2011

Bila si Kecil Tak Kunjung Berjalan


Mungkin saja bukan karena gangguan, tapi akibat kemanjaan yang ditawarkan.
“Hai, bagaimana, si kecil sudah bisa jalan?” Begitulah pertanyaan yang kerap dilontarkan mengenai perkembangan buah hati kita. Kecemasan biasanya muncul jika ulang tahun pertama sudah lewat beberapa bulan, tapi si kecil belum juga bisa berjalan. Biasanya sih, untuk menghibur diri kita menepisnya dengan berpikir, “Ah, nanti juga bisa berjalan sendiri.” Benarkah demikian?
“Pada prinsipnya selama sudah dipastikan tidak ada gangguan saraf atau kelainan otot, anak pasti bisa berjalan,” kata Dr. Irawan Mangunatmadja, Sp.A., menyemangati. Spesialis anak dari Bagian Ilmu Kedokteran Anak RSUPN Cipto Mangunkusumo, Jakarta ini menganjurkan, untuk memastikan ada tidaknya gangguan, bawalah anak ke dokter. “Dokter yang akan memastikan, adakah kelainan yang harus ditangani atau sekadar keterlambatan biasa,” ujarnya. Toh, sampai usia 18 bulan belum bisa berjalan pun masih dikategorikan normal.
KEMANJAAN JADI PENYEBAB?
Terlepas dari kemampuan fisik anak, sering kali orangtua tidak menyadari kalau kemanjaan yang mereka tawarkan pada si kecil menjadi biang keladi keterlambatan perkembangan anak, khususnya kemampuan berjalan. Contohnya, orangtua kelewat sayang sehingga takut melihat anaknya limbung kala belajar berjalan. Belum sempat anak melangkah, langsung sudah ditahannya. Atau orangtua yang selalu menyodorkan semua kebutuhan anak di depan mata sehingga si kecil enggan beringsut sedikit pun. Hal ini tentu melenakannya.
“Jangan salah, meski masih kecil, secara naluriah anak sudah bisa memilih mana yang lebih enak baginya,” kata Annelia Sari Sani, Psi. dari Unika Atma Jaya, Jakarta. Kalau semuanya sudah bisa terpenuhi dengan rengekan, mengapa harus bersusah payah berdiri dan mencoba berjalan? Kira-kira seperti itu pikirannya. Namun, karena pada dasarnya tidak ada gangguan, maka secara alami kemampuannya ini akan dikuasainya juga. Yang sedikit membedakan mungkin waktunya yang molor lebih lama.
Selain itu trauma kala latihan berjalan juga bisa menjadi penyebab psikologis keterlambatan. Misalnya saat anak pertama kali berlatih jalan, limbung kemudian jatuh membentur meja hingga memar atau malah berdarah. Baik anak maupun orangtua biasanya jadi jera untuk mencoba lagi. Padahal tentu saja ketakutan seperti ini harus dicoba dikikis. Secara perlahan orangtua harus meyakinkan anak bahwa semuanya akan baik-baik saja dengan cara terus mendampingi saat berlatih. Selain wajib menyediakan tempat latihan yang aman.
Tak sesederhana berkembangnya kemampuan melangkah, latihan berjalan ini implikasinya sangat luas bagi perkembangan psikologis anak. “Latihan berjalan sekaligus melatih anak mengembangkan sense of outonomy berikut kemandiriannya. Dari sinilah secara bertahap anak memahami bahwa segala sesuatu yang diinginkannya harus diusahakan,” tandasnya. Dapat dibayangkan seandainya anak tidak segera bisa berjalan, tentu kemampuan sosialnya pun akan ikut terhambat.
ANEKA MITOS
Banyak mitos yang tidak dapat dibuktikan secara ilmiah berkaitan dengan kemampuan berjalan anak. Misalnya, anak perempuan bisa bicara dulu baru berjalan, atau menyabet kaki anak dengan belut supaya bisa segera berjalan, sampai membawa anak ke dukun pijat.
Orangtua boleh percaya boleh juga tidak. Selama hal tersebut tidak membahayakan anak, tidak masalah. Misalnya menyabet kakinya dengan belut, selama sabetannya tidak melukai anak, ya tidak apa-apa. Kalaupun setelah itu anak bisa berjalan, bisa jadi waktu menyabetnya bertepatan dengan “klik” kemampuan itu sendiri, sehingga seakan-akan gara-gara sabetan itulah anak bisa berjalan, padahal tentu saja bukan.
Membawa anak ke dukun pijat supaya segera bisa berjalan pun harus hati-hati. Lebih baik dengan rekomendasi dokter, bawa anak ke fisioterapis. Pijatan yang dilakukan seorang fisioterapis lebih mempunyai landasan ilmu yang bisa dipertanggungjawabkan.
LATIHAN DI RUMAH
Menggunakan alat pegangan
Alat seperti ini bisa dibuat sendiri, misalnya bambu berputar yang bertumpu pada satu poros. Dengan berpegangan pada bilah yang melintang, secara tidak langsung anak “dipaksa” untuk berjalan saat mendorong bambu tersebut. Atau bisa juga dengan menyediakan hang bar seperti yang ada di pusat-pusat terapi. Intinya ada satu benda kokoh yang digunakan untuk berpegangan saat keseimbangannya masih labil.
Dirangsang dengan mainan
Setelah anak bisa berdiri, orangtua dapat melatihnya dengan meminta anak mengambil mainan yang diletakkan dengan jarak tertentu dari tempatnya berdiri. Makin lama jaraknya makin diperlebar. Atau bisa juga dengan bermain imajinasi seakan-akan anak harus menyeberang jembatan dengan melangkah dari satu tempat ke tempat lain. Jaraknya tidak usah terlalu jauh dulu, yang penting anak merasa gembira selama melakukannya. Ingat, jangan memaksa anak untuk segera menguasai kemampuan ini. Pemaksaan, apa pun bentuknya, hanya akan membuatnya “mengkeret” dan menganggap aktivitas ini sangat sulit dan menyebalkan.
Tatih setiap ada kesempatan
Memang melelahkan menatih anak setiap kali ada kesempatan. Tapi cara tradisional ini terbukti ampuh untuk merangsang kemampuan berjalan anak sejak zaman nenek moyang dulu. Orangtua bisa memegang kedua tangan anak sambil berjalan di belakangnya dalam jarak yang sangat dekat. Atau bisa juga dua orang dewasa masing-masing memegang satu tangan anak di kanan-kirinya. Tatih juga bisa dilakukan dengan mengikatkan kain ke dada hingga ketiaknya. Sisa kain yang menjuntai ke belakang dapat digunakan orangtua untuk membantu mengendalikan keseimbangan tubuh anak. “Tombol sarafnya” akan menyala ketika kakinya menjejak ke tanah. Makin sering dilakukan, makin banyak “tombol” yang akan aktif hingga kemampuannya kian terasah.
FISIOTERAPI BISA MEMBANTU
Kalau hasil berlatih sendiri di rumah dirasa kurang memuaskan, orangtua bisa membawa anak ke fisioterapis dengan rekomendasi dari dokter anak. “Dengan rekomendasi itu, fisioterapis tahu apa yang harus dilakukan,” tambah Sri Wahyuni, SMPh., dari Medicare Clinic, Jakarta. Misalnya, dokter merekomendasikan penguatan otot kaki, maka si fisioterapis akan melatih anak dengan cara menidurkannya telentang kemudian menaruh tangannya di telapak kaki anak sambil sedikit didorong. Secara refleks anak akan melakukan gerakan seperti menendang. Latihan seperti ini secara intens dan tepat terbukti mampu menguatkan otot kakinya.
Sering juga terjadinya keterlambatan akibat kegemukan. Anak-anak dengan berat badan berlebih otomatis sangat sulit berlatih menjaga keseimbangan. Malah ada beberapa anak yang jadi malas bergerak akibat beban tubuhnya yang terlalu berat. “Oleh fisioterapis anak-anak ini akan dibantu dengan program yang tepat sehingga kemampuannya berkembang,” kata Sri. Misalnya dengan teknik mendorong bola besar yang biasa digunakan untuk latihan motorik dan sebagainya.
Marfuah Panji Astuti. 

No comments:

Post a Comment